Lioao Yifeng, polisi muda yang bertugas di desa terpencil Huangpi di Propinsi Wuhan, China, jadi 'ayah' untuk 39 anak yang ditinggalkan orangtuanya bekerja. PAra orangtua mereka bekerja cukup jauh dari rumah serta begitu jarang menghabiskan saat bersama anak-anaknya.
Meski baru berusia 30 tahun, Liao cukup cekatan menangani berbagai masalah warga di desa terpencil itu. Misalnya, dia menolong membuatkan surat keterangan keluarga serta menyelidiki kasus kriminal dan memecahkan masalah antar warga.
Tapi perannya sebagai 'ayah' itulah yang paling berkesan untuk warga desa, seperti ditulis situs Asia One, Ahad (7/2).
Bocah bernama Wan Tianle, delapan tahun, yang pertama memanggil Liao dengan sebutan 'ayah'.
Orangtua Wan telah bercerai saat dia baru berusia enam bulan. Dia tak pernah melihat ibunya lagi sejak itu serta ayahnya lalu kabur lantaran banyak utang. Kakeknya sudah tak dapat merawatnya karena cuma bisa berbaring sakit di tenpat tidur. Keluarga mereka mesti bergantung pada duit tunjangan dari sang nenek yang sedikit.
Suatu hari Liao tahu Wan tak mampu membayar uang SPP sekolahnya sebesar Rp 200 ribu sebulan. Dia lalu mencarikan duit sebesar itu saban bln. serta memberi sumbangan sekaleng minyak.
Liao juga membawakan satu kilogram daging buat keluarga Wan saat Festival Musim Semi. Selepas makan malam, sambil melingkarkan tangannya di leher polisi itu, Wan bertanya :
" Paman Liao, bolehkah aku memanggilmu ayah? " Liao terharu mendengar pertanyaan Wan serta meneteskan air mata. Sejak itu dia memutuskan akan menjadi 'ayah' yang baik.
Liao sendiri sudah punya seorang anak berumur dua th.. Dia paham begitu pentingnya peran seorang bapak bagi anak-anak.
Di sekolah dasar Gantang Primary School, ada 407 anak-anak terlantar diantara total 689 anak. Dengan bantuan guru, Liao mendata kondisi anak-anak itu serta memberi perhatian lebih pada 39 anak yang paling menderita nasibnya.
Liao lalu membangun satu ruangan khusus bernama " ruang cinta keluarga " di kantor polisinya. Ruang itu diisinya dengan buku anak-anak, meja, serta kursi untuk mengerjakan PR.
Liao merasa suka bisa membantu anak-anak terlanta ritu mengerjakan PR serta mengajari mereka tentang keselamatan di waktu luang. Terkadang mereka juga mengadakan perayaan lagi tahun kecil-kecilan.

